Harapan Baru dari Balik Lumpur: Ratusan Hektar Sawah Aceh Tamiang yang Sempat ‘Mati’ Mulai Dihidupkan Kembali

ACEH TAMIANG – Hamparan sawah yang beberapa bulan lalu berubah menjadi lautan lumpur abu-abu yang mengering dan retak, kini mulai bersuara. Deru mesin alat berat perlahan menggantikan keheningan panjang di lahan pertanian Kabupaten Aceh Tamiang. Sisa-sisa endapan lumpur keras akibat banjir bandang hidrometeorologi pada November 2025 lalu, kini resmi mulai dikikis dan dibersihkan.Berita Lokal

Bagi para petani setempat, langkah ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan sebuah secercah harapan untuk menyambung hidup setelah berbulan-bulan tanah sumber penghidupan mereka tak bisa digarap.

Melalui program rehabilitasi sawah, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang bergerak cepat melakukan pemulihan lahan pascabencana. Upaya keras ini dilakukan demi mengembalikan kesuburan tanah dan memperbaiki jaringan air yang sempat terkubur lumpur pekat.

Berkejaran dengan Waktu, Targetkan 712 Hektar Produktif Kembali

Plt Kepala Dinas Pertanian Aceh Tamiang, drh. Yusbar, melalui Kepala Bidang Irwan Hadi, SP, menjelaskan bahwa pemerintah memikul tanggung jawab besar untuk memulihkan fungsi lahan sedari dini agar masyarakat bisa kembali turun ke sawah. saat ini, target rehabilitasi lahan persawahan pascabencana di Aceh Tamiang mencapai 712 hektare.

“Targetnya, pertengahan Juni pekerjaan harus selesai semuanya dengan menggunakan alat berat jenis buldoser,” ungkap Irwan Hadi dengan nada optimistis, Kamis (21/5/2026).

Proses rehabilitasi intensif ini mencakup pekerjaan striping (pengupasan lapisan lumpur mati) dan perapian kembali pematang sawah yang hancur. Mengingat skala kerusakannya yang luas, program dari Pemerintah Pusat ini dieksekusi melalui sinergi kuat berkat kerja sama antara Dinas Pertanian Aceh dengan Kodam Iskandar Muda, yang di tingkat daerah disokong penuh oleh Kodim 0117/Aceh Tamiang.

Menyelesaikan 712 hektar lahan dalam waktu yang tergolong singkat tentu bukan perkara mudah. Irwan Hadi tidak menampik adanya tantangan besar di lapangan, terutama dalam urusan logistik alat berat.

“Kendala utamanya sulit mencari alat berat, karena kegiatan serupa juga dilakukan di sejumlah Kabupaten di Aceh yang terdampak banjir. Sedangkan pekerjaan dilakukan secara serempak,” terang Irwan jujur.

Meski begitu, ia menegaskan tidak ada ruang untuk bersantai. Ada komitmen hukum dan moral yang dipertaruhkan. Sanksi tegas berupa pemotongan anggaran siap menanti jika target meleset dari kesepakatan Memorandum of Understanding (MoU).

Mengatasi dampak banjir bandang tidak boleh setengah-setengah. Edukasi penting bagi pembaca dan petani adalah bahwa memulihkan sawah pasca-banjir memerlukan pemulihan ekosistem pertanian secara menyeluruh.

Untuk mendukung asa para petani, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang menggelontorkan alokasi anggaran sebesar Rp9.612.000.000 (Sembilan Miliar Enam Ratus Dua Belas Juta Rupiah).

Dana besar ini dialokasikan secara bijak untuk dua fokus utama:

Rehabilitasi Lahan: Mengupas lumpur kering dan meratakan tanah.

Optimalisasi Infrastruktur: Meliputi pembangunan dan perbaikan saluran air yang hancur, pompanisasi, pembuatan sumur bor baru, serta rehabilitasi mesin pompa yang rusak terendam air.

Saat ini, pos pengerjaan difokuskan secara tersebar di tiga kecamatan yang terdampak paling parah, yaitu Kecamatan Karang Baru, Bendahara, dan Manyak Payed.

Gotong Royong Demi Ketahanan Pangan

Kabar baiknya bagi para petani, pemerintah tidak hanya meninggalkan mereka setelah lumpur dikeruk. Irwan Hadi menambahkan, setelah lahan selesai direhab, petani juga akan dibantu dalam proses pengolahan lahan awal. Harapannya, modal tenaga dan biaya petani yang sempat terkuras akibat bencana bisa diringankan secara signifikan.

“Kami berharap, melalui dukungan anggaran dari Kementerian Pertanian ini, lahan sawah yang terdampak bencana dapat segera kembali produktif dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Ini semua demi menjaga urat nadi ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan kita,” tutup Irwan penuh harap.

Kini, optimisme itu mengalir bersama air yang mulai kembali mengaliri parit-parit sawah Aceh Tamiang. Sawah yang lama mati suri, bersiap menghijau kembali.

Komentar