Ratusan pelajar kembali diamankan polisi saat hendak ikut demonstrasi di DPR.
Pemberitaan pun ramai menyoroti anak-anak sekolah yang disebut terprovokasi, bahkan ada yang membawa panah hingga molotov.
Namun, apakah benar persoalan bangsa bisa selesai hanya dengan memulangkan siswa ke sekolah masing-masing?
Demo buruh di depan DPR bukan muncul tanpa sebab. Aksi itu lahir dari keresahan mendalam terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan pekerja dan rakyat kecil. Buruh datang dengan tuntutan yang jelas.
Mahasiswa ikut menyuarakan aspirasi, lalu sebagian pelajar terseret, mungkin karena rasa ingin tahu, mungkin karena media sosial, atau sekadar solidaritas, tetapi fokus berlebihan pada “siswa nakal” justru mengaburkan akar persoalan.
Ironisnya, ketika aparat sibuk menahan pelajar, sebuah tragedi besar justru terjadi, seorang pengemudi ojek online meninggal setelah terlindas mobil Brimob di Pejompongan.
Nyawa melayang, luka mendalam ditinggalkan. Tetapi sorotan publik tetap diarahkan pada pelajar, seakan-akan mereka adalah sumber masalah.
Pertanyaan penting pun muncul, apa tidak ada yang lebih genting daripada sekadar mengurusi siswa?
Apakah nyawa rakyat kecil bisa disepelekan? Apakah jeritan buruh bisa dipinggirkan?
Apakah suara rakyat bisa dibungkam dengan mengalihkanisu kepada anak sekolah?
Pelajar hanyalah cermin dari keresahan masyarakat.
Jika ruang demokrasi terus menyempit, jangan heran bila generasi muda ikut turun ke jalan.
Menyalahkan mereka tanpa menyentuh akar masalah hanya akan memperbesar jurang ketidakpercayaan antara rakyat dan pemerintah.
Sudah saatnya aparat dan para pengambil kebijakan berhenti menjadikan siswa sebagai kambing hitam.
Yang lebih penting adalah menjawab mengapa rakyat turun ke jalan, mengapa protes begitu meluas, dan mengapa selalu rakyat kecil yang harus menanggung korban.
Karena sejatinya, persoalan bangsa ini tidak akan selesai di ruang kelas, melainkan di ruang rapat para elite yang berani mendengar suara rakyatnya.












Komentar