Aceh Timur — Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur Aceh sejak pertengahan November kembali memicu bencana berskala besar.
Laporan terbaru menyebutkan sedikitnya 97.384 orang terdampak banjir dan longsor di seluruh provinsi.
Dari angka tersebut, Kabupaten Aceh Timur menjadi wilayah paling parah, dengan 29.706 jiwa harus menghadapi luapan air yang merendam ratusan desa.
Sebanyak 2.456 warga terpaksa mengungsi ke meunasah, sekolah, bangunan pemerintah, dan rumah kerabat.
Di Aceh Timur, banjir merendam lebih dari 7.900 rumah yang tersebar di puluhan gampong.
Sebagian warga terpaksa menyelamatkan diri dengan perahu karet setelah air naik secara cepat pada malam hari.
Di beberapa wilayah, seperti Idi, Peureulak, dan Ranto Peureulak, air mencapai tinggi dada orang dewasa sehingga evakuasi harus dilakukan berulang kali.
Kepala Pelaksana BPBD Aceh Timur, Ashadi, menyebutkan bahwa banjir kali ini meluas lebih cepat dibanding tahun-tahun sebelumnya karena curah hujan ekstrem dan meluapnya sejumlah aliran sungai.
Tidak hanya merendam permukiman, banjir juga melumpuhkan infrastruktur vital.
Sedikitnya 799 site telekomunikasi di Aceh dilaporkan mati akibat terendam atau terkena longsor.
Pemadaman listrik di sejumlah kecamatan turut memperparah kondisi, membuat sinyal telepon dan akses internet hilang di beberapa titik.
Operator seluler dan tim dari Komunikasi Digital sudah mengirim genset ke lokasi, namun mobilisasi terhambat karena banyak jalan terputus dan jembatan tidak bisa dilalui.
Pemerintah Aceh menetapkan status tanggap darurat bencana selama dua pekan, mulai 28 November hingga 11 Desember 2025.
Gubernur Muzakir Manaf menginstruksikan seluruh SKPA dan pemerintah kabupaten agar memprioritaskan evakuasi warga, pemenuhan kebutuhan dasar, serta pendataan kerusakan secara cepat. Langkah-langkah darurat juga sedang dijalankan oleh aparat gabungan untuk menjangkau kawasan yang masih terisolasi.
Penggunaan helikopter disiapkan jika cuaca memungkinkan.
Situasi di lapangan disebut sangat dinamis. Di sejumlah pengungsian, warga membutuhkan air bersih, selimut, makanan siap saji, dan obat-obatan. Relawan melaporkan bahwa beberapa desa masih kesulitan mendapatkan logistik karena akses menuju lokasi hanya bisa ditembus lewat jalur air.
Kondisi serupa terjadi di wilayah pedalaman yang terputus akibat longsor, sehingga pendataan belum dapat dilakukan secara menyeluruh.
Potensi hujan susulan masih tinggi menurut peringatan BMKG. Pemerintah mengimbau masyarakat tetap siaga, terutama yang tinggal di bantaran sungai, dataran rendah, dan daerah rawan longsor. Jika debit air kembali naik, evakuasi lanjutan akan dilakukan untuk mencegah jatuhnya korban.
Angka dampak dan pengungsi merupakan data resmi terbaru dari BPBD dan instansi penanganan bencana. Perubahan data sangat mungkin terjadi mengingat cuaca belum stabil dan beberapa wilayah masih sulit dijangkau.
















Komentar