Tiga Hari Tanpa Air, Warga Lhoksukon Bertahan dalam Ketidakpastian

Aceh Utara I Tiga hari tanpa air bersih membuat Ida, warga Desa Kuta Lhoksukon, Aceh Utara, terpaksa menampung sisa-sisa air hujan dan membeli air galon tambahan untuk bertahan.

Itu terjadi sejak 19 Juni 2025, keran-keran di rumahnya sama sekali tidak mengalir. Bagi keluarga kecil seperti miliknya, ini bukan sekadar gangguan, tapi krisis.

“Biasanya kami cukup pakai air PDAM untuk masak, mandi, cuci, dan wudhuk. Tapi tiga hari ini benar-benar macet. Mau masak saja harus irit-irit air galon.

Untuk mandi anak-anak pun kami hemat-hemat,” keluh Ida saat ditemui, Sabtu (21/6/2025). Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Pase yang selama ini menjadi andalan suplai air bersih, mendadak tak bisa diandalkan. Tak ada pemberitahuan resmi dan penjelasan yang jelas.

Hanya keran kosong dan warga yang bertanya-tanya. Kondisi ini dialami puluhan keluarga lainnya di Lorong III, salah satu kawasan padat penduduk di Kecamatan Lhoksukon. Nah, beberapa warga di sana bahkan mengaku harus mengambil air dari sumur tetangga yang masih berfungsi, meski kualitasnya tidak sebersih air PDAM.

“Yang paling berat itu malam hari, saat mau Shalat Isya dan Subuh. Tidak ada air untuk berwudhuk. Kami harus pakai tayamum karena tidak tahu harus cari air ke mana lagi,” ujar Ida lirih.

Keluhan tak hanya soal akses air bersih untuk keperluan rumah tangga, tetapi juga soal ketiadaan informasi dari pihak Perumda. “Kalau saja mereka beri tahu, kami bisa siap-siap.

Ini kan air berhenti total, tapi masyarakat dibikin bingung. Tidak tahu kenapa, sampai kapan, harus gimana,” tambahnya. Ketika dikonfirmasi MODUSACEH.CO, Direktur Perumda Tirta Pase, Imran, mengakui ada gangguan pada jaringan pipa bawah tanah.

Titik kebocoran ditemukan di kawasan Meunasah Asan, pada bagian elbow pipa lama yang telah digunakan sejak 2004. “Sudah kami kerjakan sejak awal terjadi gangguan.

Pipa lama itu memang harus disesuaikan speknya dengan pipa baru. Tadi malam sudah dites, tapi masih ada rembesan. Hari ini akan kami tes lagi.

Kalau aman, distribusi air akan kembali normal ke instalasi Reudeup Lhoksukon,” jelas Imran, Minggu 22 Juni 2025. Imran juga menyebutkan bahwa tim teknisi terus bekerja di lapangan untuk mempercepat perbaikan. “Kami targetkan hari ini selesai,” ujarnya. Namun bagi warga seperti Ida, harapan itu datang terlambat.

Mereka sudah terlanjur mengalami hari-hari penuh kesulitan hanya untuk bisa menjalani aktivitas dasar. Bagi mereka, air bukan hanya soal teknis perpipaan, tapi kebutuhan yang menyangkut martabat hidup sehari-hari.

“Air itu hak dasar. Kami tidak minta lebih. Cuma ingin layanan yang layak dan informasi yang jelas,” pungkas Ida.***

Sumber: MODUSACEH.co

 

Komentar