Banda Aceh : Provinsi Aceh, yang terletak di ujung Barat Indonesia, merupakan salah satu daerah yang kaya akan sumber daya alam, terutama di sektor kelautan. Salah satu aset terbesar daerah yang berjulukan serambi Mekah ini adalah keberagaman hayati lautnya, perairan Aceh merupakan rumah bagi berbagai ragam jenis ikan, termasuk tuna, kakap merah, lobster dan spesies laut lainnya.
Analis Kebijakan pada Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh Afrizal saat Dialog Pagi Banda Aceh bersama RRI mengatakan, saat ini pemanfaatan potensi kelautan Aceh sangat baik dan sudah dikelola secara maksimal, dengan memunculkan sejumlah komunitas unggulan. “Aceh memiliki ragam jenis sumberdaya air, wilayah lautnya yang membentang di 18 Kabupaten kota, memiliki berbagai jenis ikan yang melimpah,” sebut Afrizal, Selasa (25/6/2024).
Diungkapkan Afrizal, kekayaan sumberdaya laut Aceh terlihat dari melimpahnya spesis laut seperti ikan Pelagis, ikan karang, cumi-cumi hingga kepiting yang tersebar disejumlah perairan di Aceh. Menurutnya dengan pengelolaan yang bijak dan berkelanjutan, tidak hanya dapat memperkuat keunggulan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan laut yang menjadi aset berharga.
Saat ini jumlah nelayan Aceh yang tergistrasi sebanyak 90 ribu orang, dengan zona perikanan tangkap laut Aceh sekitar 3,9 juta hektar. Zona Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) Aceh dibagi menjadi dua, yaitu zona WPPNRI 571 yang membentang dari Banda Aceh hingga Tamiang, dan WPPNRI 572 dari Banda Aceh hingga Singkil dan Simeulue.
Sementara itu, Sekjen Panglima Laot Aceh, Azwir Nazar mengungkapkan kondisi laut dan potensi kelautan Aceh jauh lebih baik dibandingkan daerah lain di Nusantara. “Kekayaan ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kesejahteraan bersama, tapi kita juga harus tetap menjaga kelestarian laut dan mematuhi kearifan lokal Aceh,” ungkap Azwir Selasa (25/6/2024), yang juga menjadi narasumber dalam dialog tersebut.
Menurut Azwir salah satu dari peran dan fungsi Panglima Laot Aceh adalah menjaga ekosistem laut agar biota Laut tetap lestari. Selain itu juga melakukan edukasi kepada masyarakat pesisir dan nelayan lokal Aceh agar melakukan penangkapan ikan dengan cara yang bijak, dengan tidak menggunakan alat tangkap yang dapat merusak terumbu karang, seperti pukat Harimau.
Pemanfaatan potensi kelautan Aceh tidak hanya menjadi pendorong ekonomi daerah, tetapi juga merupakan kunci untuk memastikan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal. Melalui upaya kolaboratif antara pemerintah, masyarakat sipil, dan sektor swasta, Aceh dapat menjadi model dalam pengelolaan sumber daya kelautan yang berkelanjutan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi generasi mendatang.









Komentar