Lhokseumawe: Tingkat pemahaman masyarakat terhadap HIV/AIDS masih tergolong rendah, terutama di kalangan generasi muda. Minimnya sosialisasi menjadi salah satu penyebab penyebaran HIV/AIDS terus meningkat di berbagai daerah.
Sosialisasi mengenai HIV/AIDS tidak cukup hanya dilakukan di tingkat masyarakat umum. Tetapi juga melalui institusi pendidikan, termasuk sekolah dan pesantren, kata dr. Mawaddah, seorang dokter di RSU Cut Mutia Lhokseumawe, dalam dialog interaktif RRI Pro-1 Lhokseumawe Pagi Ini, Senin (2/12/2024).
“Jadi, mungkin pembinaan seks dan karakter itu bukan cuma di sosialisasi di tingkat masyarakat umum tapi juga di pendidikan sekolah atau yang pesantren”, tambah dr. Mawaddah.
Ia menambahkan lagi, pendidikan seks dan pembentukan karakter yang berbasis nilai moral harus menjadi bagian dari kurikulum. Dengan demikian, siswa dapat memahami risiko perilaku seksual dan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi.
“Mungkin kita harus menyadari bahwa anak-anak muda ini sering kali terpapar informasi dari media, terutama dari ponsel mereka. Rasa penasaran muncul, tetapi mereka tidak mendapat ilmu yang benar tentang seksual maupun bagaimana membangun karakter sebagai pemuda yang bertanggung jawab”, ungkapnya.
Rumah Sakit Umum (RSU) Cut Meutia mencatat total 251 kasus HIV hingga saat ini. Dari jumlah tersebut, mayoritas pasien adalah laki-laki, yakni 177 orang, sedangkan perempuan berjumlah 74 orang.
Data ini mengungkap fakta bahwa laki-laki lebih rentan terhadap penularan HIV dibandingkan perempuan, terutama melalui perilaku berisiko.
Dengan meningkatnya kasus ini, diharapkan pemerintah daerah, lembaga kesehatan, dan organisasi masyarakat dapat bersinergi untuk mengurangi stigma dan meningkatkan layanan kesehatan yang ramah bagi penderita HIV/AIDS.









Komentar