Sabang selama ini dikenal sebagai surga wisata bahari dengan laut biru, terumbu karang, dan keindahan bawah laut Pulau Weh. Namun, di balik pesona alam tersebut, tersimpan cerita sejarah yang tidak kalah menarik untuk dijelajahi.
Salah satu jejak masa lalu itu berada di Pulau Rubiah. Di balik rimbunnya pepohonan dan ketenangan pulau kecil tersebut, berdiri sisa-sisa bangunan Karantina Haji yang menjadi saksi perjalanan panjang sejarah ibadah haji masyarakat Indonesia pada masa lampau.
Meski sebagian besar bangunannya telah mengalami kerusakan akibat peristiwa sejarah, termasuk dampak peperangan pada masa Perang Dunia II, beberapa bagian struktur masih bertahan hingga kini. Tiang-tiang kokoh yang berdiri di antara vegetasi pulau menjadi pengingat bahwa kawasan ini pernah memiliki peran penting dalam perjalanan jamaah haji Nusantara.
Pada masanya, Pulau Rubiah menjadi salah satu lokasi persinggahan dan karantina bagi calon jamaah haji sebelum melanjutkan perjalanan menuju Tanah Suci. Keberadaan fasilitas ini mencerminkan posisi strategis Sabang sebagai jalur pelayaran internasional sekaligus salah satu pintu penting perjalanan manusia dari Nusantara.
Untuk mencapai situs bersejarah ini, wisatawan dapat memulai perjalanan dari pusat Kota Sabang menuju kawasan Pantai Iboih dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Dari Iboih, perjalanan dilanjutkan menggunakan perahu motor menuju Pulau Rubiah.
Setelah tiba di dermaga Pulau Rubiah, pengunjung hanya perlu berjalan kaki sekitar tujuh menit melewati jalur pulau sebelum menemukan kawasan situs Karantina Haji. Perjalanan menuju lokasi menjadi bagian dari pengalaman tersendiri karena wisatawan akan melewati suasana alami Pulau Rubiah yang masih asri.
Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi hingga siang hari. Selain pencahayaan yang lebih baik untuk menikmati bangunan bersejarah, suasana pulau juga lebih nyaman untuk dijelajahi. Pengunjung tetap perlu memperhatikan kondisi jalur karena beberapa area masih berada di tengah vegetasi alami.
Sesampainya di lokasi, pengunjung akan menemukan karakter arsitektur kolonial Belanda yang menunjukkan kemajuan konstruksi pada masanya. Bangunan ini memiliki ciri khas berupa langit-langit tinggi, pintu dan jendela berukuran besar, serta sistem ventilasi alami yang dirancang menyesuaikan kondisi iklim tropis.
Berjalan di antara sisa bangunan tersebut seperti membuka kembali halaman sejarah. Beberapa bangunan administrasi masih tampak berdiri, sementara area barak atau asrama jamaah kini lebih banyak menyisakan fondasi dan deretan tiang yang menjadi penanda keberadaan bangunan masa lalu.
Bagi wisatawan, mengunjungi Karantina Haji Pulau Rubiah menawarkan pengalaman yang berbeda. Perjalanan ke tempat ini bukan hanya tentang melihat peninggalan fisik, tetapi juga memahami kisah perjuangan, perjalanan, dan perubahan zaman yang pernah terjadi di kawasan tersebut.
Duta Wisata Kota Sabang, Cut Adek Humaira, menyebut situs Karantina Haji Pulau Rubiah sebagai bagian penting dari kekayaan wisata sejarah Sabang.
“Wisata ke situs Karantina Haji Pulau Rubiah ini adalah cara terbaik untuk mengenal kembali sejarah dan merasakan bagaimana perjuangan proses keberangkatan haji masyarakat Indonesia pada zaman dahulu. Perlu diingat, fasilitas karantina haji bersejarah seperti ini hanya ada dua di Indonesia, yaitu di Kepulauan Seribu dan di Pulau Rubiah, Kota Sabang. Sungguh sangat disayangkan jika dilewatkan begitu saja tanpa ditelusuri,” jelas Humaira.
Keberadaan situs ini memperlihatkan bahwa Sabang bukan hanya tempat untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga ruang yang menyimpan cerita perjalanan manusia. Perpaduan antara wisata bahari dan sejarah menjadikan Pulau Rubiah memiliki daya tarik yang semakin lengkap.
Selain kaya akan nilai edukasi, sisa-sisa bangunan karantina haji pertama di Indonesia ini juga menjadi lokasi yang sangat eksotis untuk berburu foto bertema vintage. Kilatan cahaya matahari pagi yang menerobos di sela-sela tiang tua dan rimbunnya pepohonan akan menghasilkan perpaduan bayangan yang sangat estetik.
Menjelajahi Pulau Rubiah bukan lagi sekadar tentang bermain dengan ikan-ikan karang, melainkan tentang menghormati jejak langkah spiritual bangsa yang abadi di atas pulau ini. Jadi, siapkah Anda melangkah melintasi waktu di Pulau Rubiah?
Caption: Duta Wisata Kota Sabang, Cut Adek Humaira mengunjungi sisa-sisa bangunan Karantina Haji yang menjadi saksi perjalanan panjang sejarah ibadah haji masyarakat Indonesia pada masa lampau. Perjalanan menuju lokasi menjadi bagian dari pengalaman tersendiri karena wisatawan akan melewati suasana alami Pulau Rubiah yang masih asri.(Adv)















Komentar