Di tengah riuh tuntutan publik terhadap kinerja badan usaha milik daerah, PT Pembangunan Aceh
(Perseroda) atau PT PEMA memilih jalan yang tidak selalu terlihat gemerlap: membenahi diri dari
dalam. Tahun 2025 menjadi fase yang penting bagi perusahaan daerah ini, bukan karena
ekspansi besar-besaran atau gebrakan yang sensasional, melainkan karena upaya sunyi
membangun fondasi.
Di banyak tempat, perubahan besar sering dimulai dari pekerjaan yang tidak terlihat. Dari ruang-
ruang rapat yang panjang, evaluasi yang melelahkan, hingga keputusan-keputusan kecil yang
jarang masuk pemberitaan. Tidak ada tepuk tangan, tidak pula sorotan berlebihan. Tetapi justru
dari ruang-ruang sunyi seperti itulah masa depan sebuah perusahaan sering ditentukan. Itulah
yang kini sedang dijalani PT PEMA.
Perusahaan ini tampak mulai menyadari bahwa tantangan utama BUMD bukan sekadar mencari
keuntungan, tetapi membangun kepercayaan. Sebab kepercayaan publik tidak lahir dari slogan,
melainkan dari konsistensi. Karena itu, pembenahan Good Corporate Governance (GCG) menjadi
salah satu titik tekan utama. Struktur organisasi diperkuat, SOP diperjelas, pengawasan internal
dibenahi, sementara sistem pelaporan mulai diarahkan lebih transparan dan terukur.
Langkah itu mungkin terdengar administratif. Namun bagi dunia usaha, tata kelola adalah
pondasi. Tanpa itu, perusahaan mudah goyah ketika menghadapi tekanan bisnis maupun sorotan
publik. Ibarat rumah besar, sehebat apa pun bangunannya, ia tetap membutuhkan pondasi yang
kokoh agar tidak runtuh diterpa waktu.
Keseriusan tersebut mulai terlihat dalam sejumlah keputusan penting. Salah satunya ketika PT
PEMA memenangkan perkara kopi melawan PT Jingki Roda Gayo (JRG) melalui Putusan
Pengadilan Negeri Banda Aceh Nomor 9/Pdt.G/2025/PN Bna. Bagi sebagian orang, ini mungkin
hanya perkara hukum biasa. Tetapi bagi perusahaan daerah, kemenangan tersebut menjadi sinyal
bahwa aset dan kepentingan daerah mulai dijaga dengan lebih serius.
Di balik perkara itu, ada pesan yang lebih besar: bahwa perusahaan milik daerah tidak boleh lagi
dipandang lemah dalam menjaga haknya sendiri. Ada tanggung jawab yang harus dipertahankan,
sebab di dalam setiap aset daerah, ada harapan masyarakat yang ikut dititipkan.
Di sektor energi, pembenahan juga mulai menunjukkan hasil. Melalui PT Pema Global Energy
(PGE), perusahaan berhasil meningkatkan harga jual gas. Langkah ini memperlihatkan bahwa
pertumbuhan tidak selalu harus ditempuh lewat ekspansi besar, tetapi juga melalui strategi
negosiasi dan optimalisasi kontrak yang tepat. Dampaknya tidak hanya memperkuat posisi bisnis
perusahaan, tetapi juga membuka peluang peningkatan kontribusi terhadap Pendapatan Asli
Daerah (PAD).
Hal serupa terlihat pada pengelolaan komoditas sulfur. Dengan pendekatan yang lebih adaptif
terhadap pasar, PT PEMA mampu meningkatkan nilai jual komoditas tersebut. Perlahan, pola
bisnis yang sebelumnya cenderung pasif mulai bergerak menjadi lebih dinamis dan responsif.
Ada upaya untuk tidak lagi sekadar bertahan, tetapi mulai belajar membaca arah perubahan.
Di balik semua itu, ada satu aspek yang jarang menarik perhatian publik namun sangat
menentukan: disiplin keuangan. Efisiensi anggaran, rasionalisasi biaya, hingga penguatan kontrol
pengeluaran menjadi pekerjaan mendasar yang sedang diperkuat. Langkah-langkah ini memang
tidak menghasilkan sorotan besar, tetapi justru menjadi penopang utama keberlanjutan
perusahaan.
Sebab perusahaan yang sehat bukan hanya yang terlihat besar dari luar, tetapi yang mampu
menjaga ritme dari dalam. Dan sering kali, pekerjaan paling berat adalah mengendalikan diri
ketika ingin melangkah terlalu cepat.
Pada saat yang sama, PT PEMA juga mulai menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Dorongan
digitalisasi dan peningkatan layanan menunjukkan upaya perusahaan untuk tidak hanya mengejar
profit, tetapi juga memperbaiki kualitas pelayanan sebagai entitas milik daerah. Tantangannya
tentu tidak ringan, sebab digitalisasi sering kali berhenti sebatas simbol tanpa benar-benar
mengubah budaya kerja.
Namun perubahan memang selalu membutuhkan proses. Tidak semua hal bisa selesai dalam
semalam. Ada kebiasaan lama yang harus ditinggalkan, ada pola kerja baru yang harus dibangun,
dan ada mentalitas yang perlahan perlu diubah.
Sementara itu, upaya diversifikasi usaha melalui trading kopi dan inisiasi sektor telekomunikasi
menjadi langkah baru yang menarik perhatian. Ini menunjukkan adanya keberanian untuk
membuka sumber pendapatan baru di luar sektor utama perusahaan. Namun ekspansi juga
membutuhkan kehati-hatian. Banyak BUMD terjebak pada ambisi memperluas usaha tanpa
kesiapan kompetensi yang memadai.
Karena itu, bagi PT PEMA, ukuran keberhasilan ke depan bukan terletak pada seberapa banyak
lini bisnis yang dibuka, tetapi seberapa kuat dan profesional setiap lini tersebut dikelola.
Pada akhirnya, perjalanan transformasi sebuah perusahaan daerah memang tidak bisa diukur
dalam waktu singkat. Perubahan budaya kerja, penguatan integritas, dan penataan sistem adalah
proses panjang yang membutuhkan konsistensi dan keteladanan pimpinan.
Tahun 2025 mungkin belum menjadi tahun lompatan besar bagi PT PEMA. Namun setidaknya,
perusahaan ini sedang mencoba bergerak dari pola lama BUMD yang administratif menuju
entitas bisnis yang lebih profesional, adaptif, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Publik tentu menunggu hasil akhirnya. Sebab ukuran keberhasilan sebuah BUMD bukan hanya
pada laporan yang rapi atau strategi yang terdengar meyakinkan, tetapi pada seberapa besar
manfaat yang benar-benar kembali kepada masyarakat Aceh.
Dan mungkin, harapan itu memang sedang dibangun perlahan. Tidak dengan kegaduhan, tetapi
melalui langkah-langkah kecil yang suatu hari nanti diharapkan mampu membawa dampak besar
bagi daerah.















Komentar