Banda Aceh – Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui berbagai kegiatan expo dan promosi ekonomi kreatif yang digelar secara berkelanjutan. Langkah tersebut menjadi bagian penting dari strategi pemerintah kota dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekaligus memperluas peluang pasar bagi pelaku usaha lokal.
Berbagai kegiatan expo yang diselenggarakan Pemko Banda Aceh tidak hanya menjadi ajang promosi produk, tetapi juga wadah pengembangan kapasitas pelaku UMKM agar mampu bersaing di tengah perkembangan ekonomi modern. Melalui kegiatan tersebut, para pelaku usaha diberikan ruang untuk memperkenalkan produk unggulan mereka kepada masyarakat luas, baik di tingkat lokal maupun regional.
Beberapa kegiatan yang sangat berdampak positif bagi para pelaku UMKM yang dilaksanakan Pemerintah Kota Banda Aceh baru-baru ini, diantaranya adalah Pekan Raya Ramadan 2026. Kegiatan ini digelar sebagai langkah strategis untuk mendorong kebangkitan ekonomi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di bulan suci Ramadhan.
Kemudian ada kegiatan Banda Aceh Experience City Expo 2026 yang sukses diselenggarakan pada 20-22 April 2026 di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, dalam rangka memperingati HUT ke-821 Kota Banda Aceh dan Rakerkomwil I APEKSI. Acara ini mengusung tema “Kota Tangguh, Fiskal Kuat, dan Kolaborasi Kuat” dengan menampilkan UMKM, seni budaya, serta inovasi daerah.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menegaskan bahwa pelaku usaha lokal memiliki potensi besar untuk bersaing hingga ke pasar yang lebih luas. Optimisme ini ia sampaikan saat menghadiri ajang Banda Aceh Experience dalam rangkaian penutupan pameran Banda Aceh City Expo.
Pada kesempatan tersebut, Illiza menekankan bahwa pelaku UMKM tidak boleh merasa inferior terhadap produk luar negeri. Menurutnya, kualitas produk lokal justru memiliki daya tarik tersendiri, termasuk bagi pasar internasional.
“Kita punya potensi yang sangat luar biasa, yang memang butuh didorong. Kita nggak boleh kalah dengan produk-produk luar negeri, karena kita yakin produk-produk dalam negeri kita ini punya potensi. Dan orang luar negeri juga pasti punya kesenangan juga dengan produk-produk yang kita punya ini,” ujar Illiza.
Ia juga mengapresiasi terselenggaranya Banda Aceh City Expo sebagai ruang strategis promosi UMKM. Illiza menegaskan bahwa para pelaku usaha yang terlibat telah melalui proses kurasi ketat, sehingga yang tampil bukan sekadar peserta event, tetapi pelaku usaha yang konsisten dan berkelanjutan.
“UMKM yang hadir ini sudah kita kurasi. Benar-benar mereka yang memang memiliki platform untuk penjualan secara online maupun secara langsung, dan secara istiqamah mereka terus berjualan, tidak hanya karena ada event,” jelasnya.
Dari sekitar 130 tenant yang berpartisipasi, Illiza melihat langsung kualitas produk yang ditampilkan—mulai dari kuliner, fashion, hingga kerajinan—memiliki standar yang layak untuk ekspansi lebih luas. “Saya sudah keliling semuanya melihat tampilan-tampilan dari kuliner, dari fashion, dari produk-produk yang dihasilkan ini betul-betul punya daya saing. Punya kelayakan untuk bisa lebih ekspansi, lebih naik kelas,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan (Diskopukmdag) Kota Banda Aceh, Bukhari Sufi, S.Sos, M.Si saat diwawancarai media ini, Minggu (3/5/2026), menyampaikan bahwa UMKM memiliki peran strategis dalam menopang perekonomian daerah. Selain mampu menciptakan lapangan kerja, sektor UMKM juga terbukti menjadi salah satu penggerak utama ekonomi masyarakat, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi global yang dinamis.
Oleh karena itu, katanya, Pemerintah Kota Banda Aceh terus berupaya memberikan dukungan nyata kepada pelaku UMKM melalui berbagai program pembinaan, pelatihan, hingga kegiatan expo yang tidak hanya sebagai ajang promosi untuk membuka akses pasar lebih luas tapi juga sebagai pasar (penjualan) langsung dalam meraup pundi-pundi rupiah.
Menurutnya, pelaksanaan expo UMKM menjadi salah satu sarana efektif untuk mempertemukan pelaku usaha dengan konsumen, bahkan bisa menarik mitra bisnis potensial. Karena itu, kegiatan seperti pameran produk lokal, festival ekonomi kreatif, bazar kuliner, dan promosi produk unggulan daerah terus diperkuat sebagai bagian dari agenda pembangunan ekonomi kota. “Kegiatan expo momentum penting dalam membangkitkan semangat pelaku usaha lokal,” tegasnya.
Berbagai produk khas Banda Aceh mulai dari kuliner, kerajinan tangan, fesyen muslim, kopi, hingga produk kreatif berbasis budaya lokal turut dipamerkan dalam setiap kegiatan expo. “Keberagaman produk tersebut menjadi bukti bahwa Banda Aceh memiliki potensi ekonomi kreatif yang besar dan mampu berkembang secara kompetitif,” ungkapnya.
Selain kegiatan expo, Pemerintah Kota Banda Aceh juga aktif menghadirkan berbagai pelatihan dan pendampingan bagi pelaku UMKM, termasuk pelatihan pemasaran digital, pengelolaan usaha, manajemen keuangan, hingga pengembangan branding produk. “Kita ingin UMKM Banda Aceh tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas dan mampu menembus pasar nasional bahkan internasional. Potensi yang dimiliki sangat besar jika terus didukung secara serius,” katanya.
Dongkrak Perputaran Ekonomi
Kegiatan Banda Aceh Experience City Expo 2026 yang sukses diselenggarakan pada 20-22 April 2026 di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, dalam rangka memperingati HUT ke-821 Kota Banda Aceh dan Rakerkomwil I APEKSI memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM) serta sektor perdagangan di ibu kota Provinsi Aceh itu.
Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan (Diskopukmdag) Banda Aceh, Bukhari Sufi, menilai rangkaian kegiatan yang berlangsung meriah ini berhasil membuka ruang ekonomi yang luas bagi masyarakat. Menurutnya, momentum tersebut tidak hanya memacu transaksi perdagangan, tetapi juga menggerakkan aktivitas ekonomi warga hingga menciptakan perputaran uang bernilai besar
“Pelaksanaan HUT ke-821 ini benar-benar memberi dampak nyata bagi pelaku UKM dan perdagangan. Ada perputaran ekonomi yang cukup besar, dan ini menjadi bukti bahwa momentum seperti ini sangat penting untuk mendorong geliat usaha masyarakat,” ujar Bukhari Sufi.
Salah satu kegiatan yang memberi dampak besar yakni event Banda Aceh Experience, yang menjadi bagian dari rangkaian Rapat Kerja Komisariat Wilayah (Raker Komwil) I APEKSI dalam peringatan HUT ke-821 Kota Banda Aceh. Kegiatan tersebut diikuti oleh 24 kota se-Sumatra dan mampu memicu perputaran ekonomi hingga Rp7,62 miliar.
Berdasarkan data penyelenggara, nilai direct impact dari event tersebut mencapai Rp5,08 miliar. Angka itu bersumber dari belanja penyelenggara, kontribusi sponsor, pengeluaran pengunjung, serta pendapatan tenant yang terlibat dalam kegiatan. Sementara itu, indirect impact yang dihitung menggunakan koefisien 1,5 mencapai Rp2,54 miliar.
Dampak tidak langsung juga dirasakan luas oleh sektor pendukung, seperti perhotelan, transportasi, kuliner, produksi, energi, hingga berbagai jasa lainnya. Kehadiran para kepala daerah dan delegasi dari berbagai kota di Pulau Sumatera turut mendorong meningkatnya mobilitas pengunjung, tidak hanya dari Aceh tapi juga dari berbagai kota di Pulau Sumatera. Sehingga aktivitas ekonomi di Banda Aceh ikut bergerak lebih cepat.
Event ini juga melibatkan sedikitnya 130 tenant yang didominasi pelaku UMKM lokal. Beragam produk unggulan seperti kuliner, fesyen, dan kerajinan kreatif menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung dan delegasi dari luar daerah.
Salah seorang pelaku UMKM, Fira dari tenant Secoklatitu, mengaku merasakan langsung dampak positif dari kegiatan tersebut. Ia menyebutkan, penjualan pada pameran ini jauh lebih ramai dibandingkan hari biasa. “Alhamdulillah, hari pertama saja sudah jauh lebih ramai dari biasanya. Penjualan meningkat dan produk kami juga lebih dikenal oleh pengunjung dari luar daerah,” ujarnya. (Adv)















Komentar