Jakarta: Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi menegaskan komitmen kuat Indonesia dalam mendukung Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) dan hak-hak pengungsi Palestina. Hal ini disampaikan dalam Pertemuan Tingkat Menteri yang digelar di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB ke-79 di New York, Kamis (26/9/2024). Pertemuan tersebut dihadiri oleh berbagai perwakilan negara yang membahas tantangan serius yang dihadapi UNRWA serta langkah-langkah kolektif untuk memperkuat dukungan bagi badan PBB tersebut.
Dalam pertemuan itu, Menlu Retno menyoroti pentingnya peran UNRWA di tengah krisis kemanusiaan di Palestina. “Sulit dibayangkan bagaimana situasi kemanusiaan di Palestina saat ini jika tidak ada UNRWA di lapangan,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta.
Ia jga menekankan UNRWA adalah satu-satunya harapan bagi pengungsi Palestina, terutama dalam memberikan bantuan kemanusiaan di tengah situasi konflik yang berkepanjangan. Menlu Retno menggarisbawahi dua hal utama yang diperlukan untuk mendukung UNRWA, yaitu dukungan politis dan pendanaan. Pertama, ia menekankan pentingnya melindungi mandat UNRWA dari tekanan politik dan upaya mendelegitimasi badan tersebut.
“Ancaman terhadap UNRWA adalah ancaman bagi kemanusiaan,” tegasnya.
Menlu Retno menyerukan dukungan pendanaan yang lebih besar bagi UNRWA. Indonesia telah berkontribusi secara nyata dengan melipatgandakan kontribusi tahunan untuk UNRWA pada 2024, serta memberikan dukungan pada Flash Appeal UNRWA.
“Kami mengajak negara-negara lain untuk turut memberikan kontribusi pendanaan yang lebih signifikan,” tambahnya.
Menutup pidatonya, Menlu Retno menegaskan pekerjaan UNRWA bukanlah solusi akhir dari masalah pengungsi Palestina, melainkan bentuk respons kemanusiaan atas krisis politik yang berkepanjangan. “Mendukung UNRWA adalah investasi penting bagi kemanusiaan, stabilitas, dan perdamaian regional,” ujarnya.
Menlu Retno juga menyerukan komunitas internasional untuk segera mengakui kedaulatan penuh Palestina dan mendukung keanggotaan Palestina di PBB sebagai langkah penting menuju solusi dua negara. “Ini adalah satu-satunya cara untuk memberikan tekanan politik pada Israel dan mencapai perdamaian yang berkelanjutan,” pungkasnya.















Komentar