Sabang : Ecoprint adalah teknik pencetakan kain menggunakan bahan alami seperti daun, bunga, dan ranting, selain ramah lingkungan ecoprint juga menawarkan keunikan tersendiri pada motif kain karena setiap cetakan yang dihasilkan memiliki pola yang berbeda-beda, tergantung pada bahan yang digunakan. Popularitas ecoprint terus meningkat, terutama di kalangan pencinta fashion yang peduli lingkungan.
Ecoprint pertama kali dikenal luas di dunia fashion pada akhir abad ke-20. Teknik ini dipopulerkan oleh India Flint, seorang seniman tekstil asal Australia, yang dikenal sebagai pionir dalam penggunaan bahan alami untuk mewarnai kain. Sejak saat itu, ecoprint mulai berkembang di berbagai negara, termasuk Indonesia, di mana para perajin mulai mengadopsi teknik ini dengan menggunakan bahan-bahan lokal.
Nah Ecoprint ini sudah ada di Kota Sabang sejak tahun 2021 lalu, dicetuskan oleh Ketua IPEMI Kota Sabang Erna Fefilinda. Ia mendapatkan pengetahuan mengenai pembuatan Ecoprint ini dari sosok pelaku UMKM yang berasal dari Yogyakarta, dan langsung membagikan ilmu tersebut kepada ibu rumah tangga yang tergabung dalam ograniasai Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Sabang.
Erna mengatakan, proses pembuatan yang dapat dilakukan dalam ecoprint ini langkah pertama yang dapat dilakukan dengan memilih bahan alami seperti daun, bunga, atau ranting yang memiliki kandungan pigmen alami, jenis daun yang sering digunakan antara lain daun jati, daun mangga, daun jarak, dan daun eucalyptus. Kemudian kain yang digunakan biasanya adalah kain alami seperti katun, linen, atau sutra. Sebelum dicetak, kain harus direndam dalam larutan mordant (zat pengikat warna) seperti tawas atau cuka untuk membantu warna dari bahan alami melekat lebih kuat pada kain.
“Bahan-bahan alami yang telah dipilih kemudian disusun di atas kain. Proses ini dilakukan dengan hati-hati untuk mendapatkan pola yang diinginkan. Setelah bahan-bahan alami ditata di atas kain, kain digulung dengan rapat dan dikukus selama beberapa jam. Proses ini memungkinkan warna dan pola dari bahan alami meresap ke dalam serat kain, setelah proses pengukusan selesai, kain dibiarkan mengering, lalu dicuci dengan air bersih untuk menghilangkan sisa-sisa bahan alami yang tidak menempel pada serat kain,” ujar Erna, Selasa (03/09/2024).
Ia menambahkan, beberapa bahan alami yang dapat digunakan untuk pembuatan Ecoprint ini seperti daun jati yang dapat memberikan warna coklat hingga kemerahan, Daun Mangga dapat menghasilkan warna hijau atau kuning, Daun Eucalyptus memberikan warna oranye hingga coklat. Kemudian Bunga Mawar, memberikan warna merah muda hingga merah tua, dan Kulit Kayu, seperti kulit kayu mangga atau mahoni yang memberikan warna coklat atau merah tua.
“Meski Ecoprint memiliki banyak kelebihan, ada beberapa kendala yang dihadapi para pembuatnya, hasil Ecoprint sangat bergantung pada jenis bahan alami yang digunakan, kondisi cuaca, dan cara pengolahan, hal ini membuat sulit untuk menghasilkan motif yang sama persis pada setiap cetakan. Proses pembuatan Ecoprint relatif memakan waktu lama, mulai dari persiapan bahan hingga proses pengukusan dan pengeringan, keterbatasan warna, ketergantungan pada bahan baku lokal,” tambahnya.
Ecoprint menawarkan sebuah alternatif ramah lingkungan dalam industri tekstil, dengan memanfaatkan kekayaan alam yang ada di sekitar kita. Meskipun ada beberapa kendala yang dihadapi, potensi kreatif dan keberlanjutan dari ecoprint menjadikannya salah satu tren yang patut untuk diperhatikan dan terus dikembangkan.













Komentar