Banda Aceh : Dalam satu pekan terakhir, kebakaran hutan dan lahan sering terjadi di Aceh. Karhutka ini terjadi di sejumlah kabupaten, mulai dari wilayah timur, tengah, dan barat selatan Aceh. Bencana kebakaran ini terjadi saat wilayah Aceh sedang berada pada puncak musim kemarau.
Di kabupaten Nagan Raya, Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) melaporkan, kebakaran lahan gambut menghanguskan sekitar 12 hektar. Lahan gambut ini terbakar sejak Senin, 22 Juli 2024 berada di Kecamatan Kuala Pesisir Gampong Padang Payang dan Kecamatan Darul Makmur Gampong Poloe Krut. Hingga kini petugas masih melakukan upaya pemadaman, sebagian titik api masih belum padam total.
Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh Fadmi Ridwan dalam laporannya yang diterima RRI, mengatakan, dalam proses pemadaman petugas mengalami kendala karena tidak ada sumber air dan aksesnya tidak bisa dijangkau dengan mobil pemadam kebakaran.
“BPBD Nagan Raya beserta tim gabungan mengerahkan tiga unit mesin pompa air untuk memadamkan api dan dengan alat seadanya pemadaman ini terhambat karena armada damkar tidak bisa memasuki area kebakaran dan terbatasnya sumber air di lokasi,” ujarnya.
Dalam proses pemadaman, tim juga mengerahkan dua alat berat untuk melakukan pemadaman kebakaran lahan gambut di Kabupaten Nagan Raya. Alat berat ini difungsikan untuk menghentikan api agar tidak meluas. Fadmi mengakui, sulitnya memadamkan api pada lokasi kebakaran lahan gambut.
“Dalam upaya pemadaman ini, tim gabungan mengarahkan dua unit Excavator untuk melakukan penyekatan terhadap lahan yang terbakar agar tidak meluas,” katanya.
Lalu mengapa kebakaran lahan gambut sangat sulit dipadamkan? Lahan gambut merupakan ekosistem yang penting, namun sering kali menjadi sumber masalah besar ketika terbakar. Kebakaran lahan gambut di Indonesia telah menjadi isu tahunan yang menimbulkan berbagai dampak negatif, mulai dari kerusakan lingkungan hingga gangguan kesehatan bagi masyarakat.
Lahan gambut terbentuk dari akumulasi bahan organik yang sebagian besar berasal dari sisa-sisa tumbuhan yang terdekomposisi secara lambat dalam kondisi basah. Ciri khas dari lahan gambut adalah kandungan air yang tinggi dan material organik yang mudah terbakar. Lahan gambut juga memiliki ketebalan yang bervariasi, mulai dari beberapa meter hingga lebih dari sepuluh meter, yang memperumit proses pemadaman api.
Lahan gambut memiliki kemampuan menyimpan air yang tinggi, namun ketika terjadi kekeringan, lahan gambut dapat menjadi sangat kering dan mudah terbakar. Api dapat membakar material organik di bawah permukaan tanah yang sulit dijangkau oleh air pemadam kebakaran.
Selain itu, lahan gambut sering kali terletak di daerah terpencil dengan akses yang sulit. Hal ini menyulitkan mobilisasi peralatan dan personel pemadam kebakaran. Infrastruktur yang kurang memadai juga menghambat proses pemadaman, terutama dalam hal distribusi air ke lokasi kebakaran.
Faktor lain yang mempersulit dalam proses pemadaman lahan gambut ialah cuaca. Cuaca sering kali memainkan peran besar dalam kebakaran lahan gambut. Musim kemarau yang panjang dan intens dapat menyebabkan pengeringan lapisan atas gambut, membuatnya lebih rentan terbakar. Angin kencang juga dapat mempercepat penyebaran api, sementara curah hujan yang tidak merata dapat membuat upaya pemadaman menjadi lebih sulit.
Oleh sebab itu, aktivitas manusia seperti pembukaan lahan dengan cara pembakaran, pembangunan kanal, dan pengeringan lahan gambut untuk pertanian akan memperburuk kondisi kebakaran lahan gambut. Kanal-kanal ini mengurangi kandungan air dalam gambut, membuatnya lebih mudah terbakar.













Komentar