Menerjang Arus Maut demi Senyum Warga Simpang Jernih: Aksi Heroik Nasruddin dan Tim Relawan di Pelosok Aceh Timur

ACEH TIMUR – Deru mesin boat kayu itu bukan sekadar suara mesin biasa. Bagi warga di pedalaman Simpang Jernih, itu adalah suara harapan. Di atas perahu yang bergoyang dihantam arus Sungai Tamiang yang masih ganas, Nasruddin, SE, berdiri tegak. Jaket pelampungnya basah kuyup, namun tatapannya lurus ke depan, menembus belantara dan jeram sungai yang bisa saja membalikkan keadaan dalam hitungan detik.

Nasruddin, Program Manager Yayasan Geutanyoe, bersama 10 relawan lainnya (gabungan Yayasan Geutanyoe dan Save The Children), bertaruh nyawa demi satu tujuan: memastikan anak-anak korban banjir di Desa Pante Kera, Rantau Panjang, hingga Melidi Batu Sumbang tidak merasa sendirian.

Bagi Nasruddin dan timnya, jalur darat yang lumpuh total pasca-banjir bandang November lalu bukanlah alasan untuk menyerah. Baginya, setiap detik keterlambatan adalah penderitaan tambahan bagi para pengungsi.

“Kami putuskan lewat sungai agar bantuan tidak tertunda sedikit pun. Ini bukan soal gagah-gagahan, tapi soal komitmen. Hak dasar anak-anak dan perempuan di sini harus terpenuhi, meski kami harus berhadapan dengan sungai yang ekstrem,” tegas Nasruddin dengan nada tenang namun penuh keyakinan.

Selama tiga hari penuh, tim ini menyusuri “jalur maut” Sungai Lokop. Delapan personel Yayasan Geutanyoe dan tiga personel Save The Children bahu-membahu menjaga logistik agar tetap kering, sementara air sungai yang keruh terus mencoba masuk ke dalam palka.

Bantuan yang dibawa bukanlah jumlah yang sedikit. Dengan dedikasi tinggi, mereka menyalurkan:

Penyaluran ini dilakukan secara militan—dari rumah ke rumah, dari tangan ke tangan. Tidak ada bantuan yang ditumpuk di satu titik; relawan ini memastikan setiap anak mendapatkan haknya secara langsung dengan pendampingan perangkat desa setempat.

Tangis Haru di Ujung Pedalaman

Kedatangan tim di desa-desa terpencil ini disambut dengan suasana emosional. Seorang warga, dengan mata berkaca-kaca, tak mampu menyembunyikan rasa herannya sekaligus syukurnya melihat tim relawan berani menembus jalur sungai yang biasanya dihindari banyak orang.

“Tidak semua orang mau ke sini. Nyawa taruhannya kalau lewat sungai dalam kondisi seperti ini. Tapi kalian datang,” ucapnya lirih sambil memegang tangan salah satu relawan.

Bagi warga Simpang Jernih, bantuan ini bukan sekadar sabun atau buku tulis. Ini adalah bukti bahwa di tengah kepungan hutan dan derasnya sungai Lokop, masih ada jiwa-jiwa patriot seperti Nasruddin dan timnya yang peduli pada nasib mereka.

Aksi kemanusiaan ini merupakan bagian dari respons cepat pasca-bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh. Di tengah tantangan alam yang luar biasa, Yayasan Geutanyoe membuktikan bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas medan, dan pengabdian tidak menuntut pamrih.

Komentar