Melawan Lupa, Kisah Pilu 9 Desember 1947 di Rawagede

Banda Aceh : Pada 1947, Tentara Belanda kembali datang ke Indonesia dengan bantuan Tentara Sekutu dan berhasil menguasai Jawa Barat. Pejuang RI dan Tentara Republik Indonesia (TRI) kala itu banyak yang ke pedesaan, salah satunya di Desa Rawagede, Karawang, untuk membangun pertahanan melawan serbuan Belanda.

Desa Rawagede menjadi markas penting pejuang RI saat perang melawan Belanda, strategisnya lokasi membuat Rawagede menjadi sasaran Belanda. Belanda beberapa kali gagal menyerang Rawagede berkat kewaspadaan pejuang, namun seorang mata-mata akhirnya berhasil lolos dan melaporkan keberadaan markas.

Dirangkum RRI dari laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, Belanda merencanakan penyerangan besar-besaran, namun rencana ini bocor dan pejuang berusaha memperkuat pertahanan. Meski sudah bersiap, sebagian besar pejuang tidak sempat evakuasi karena hujan deras, Belanda kemudian mengepung dan menyerang Rawagede pada dini hari.

Penduduk yang tidak tahu apa-apa menjadi korban, Belanda menembak membabi buta, membakar rumah, dan mencari pejuang secara brutal. Belanda menggunakan berbagai jenis senjata berat dan sangat kejam dalam mengusik kedamaian NKRI.

Setelah membumihanguskan Rawagede, Belanda masih mencari Kapten Lukas Kustaryo dan pejuang lainnya, mereka bahkan melibatkan penduduk pribumi sebagai pengkhianat. Korban jiwa mencapai ratusan orang, termasuk penduduk, sungai dipenuhi jenazah dan tangisan keluarga menggema.

Penduduk yang selamat menguburkan ratusan jenazah dengan peralatan seadanya, mereka trauma dan kehilangan banyak orang yang mereka cintai. Pembantaian Rawagede adalah salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Indonesia, kekejaman Belanda terhadap rakyat sipil tidak dapat dibayar dengan kata maaf.

Komentar