Bireuen I Di ruang sidang Pengadilan Negeri Bireuen, Hasnawi alias Weuk duduk di kursi terdakwa. Wajahnya datar, seolah tak ada penyesalan. Sidang yang digelar pada Selasa (28/10), menghadirkan sejumlah saksi. Mulai dari warga pencari jenazah hingga petugas kepolisian yang pertama kali ke lokasi.
Hasnawi alias Weuk dijerat sebagai pelaku pembunuhan Hasyimi yang juga teman dekatnya. Karena itu, apa pun vonis nantinya, bagi keluarga korban tak akan mampu mengembalikan nyawa Hasyimi.
Mereka berharap, keadilan benar-benar ditegakkan. “Kami ikhlas, tapi pelaku harus dihukum setimpal. Dia sudah mengkhianati persahabatan dan menghancurkan keluarga kami,” ujar Abdul Hakim, abang kandung korban. Itu sebab, jaksa menjeratnya dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup. Pagi itu, 4 Juni 2025. Udara masih lembab setelah semalaman hujan turun deras. Sejumlah warga yang sedang melintas di jalan setapak terperanjat ketika melihat sesosok tubuh terbujur kaku di pinggir Sungai Pineueng, Gampong Darussalam, Kecamatan Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen.
Temukan lebih banyak Wawancara eksklusif Berita Aceh terkini Arsip berita lama Jasa liputan khusus Peralatan olahraga bela diri Berita nasional terkini Kursus bahasa Aceh Peralatan fotografi jurnalistik Buku sejarah Aceh Opini pembaca Tak lama kemudian, kabar itu menyebar cepat, yang tewas adalah M. Hasyimi (44), warga Gampong Tanjong Beuridi. Awalnya, semua percaya bahwa lelaki itu terpeleset dan jatuh dari tebing setinggi hampir dua puluh meter. Sebeb, begitulah keterangan awal dari rekannya, Hasnawi alias Weuk, yang kala itu tampak begitu berduka dan pasrah. Tapi siapa sangka, di balik cerita sederhana tentang “terjatuh di jurang”, tersimpan rencana gelap yang memakan nyawa seorang sahabat. Maklum, siang sebelumnya, warga melihat Hasyimi masih duduk santai di sebuah warkop di kawasan Darussalam. Saat itu, dia memesan mie goreng dan kopi, ditemani seorang pria yang dikenal akrab dengan panggilan si Weuk.
Keduanya tampak berbincang ringan, lalu beranjak pergi berboncengan menggunakan sepeda motor Honda Vario, menuju arah hutan di perbukitan Peusangan Selatan. Menurut keterangan Abdul Hakim (46), abang kandung korban, Hasyimi baru saja menerima uang hasil panen sawit dan pembayaran hutang dari rekan-rekan. Jumlahnya tidak sedikit. “Dia memang sering membawa uang kalau baru dari kebun. Tapi kami tak pernah sangka, itu yang membuat nyawanya melayang,” ujar Abdul Hakim dengan mata berkaca. Malam itu, Hasyimi tak kunjung pulang. Sekitar pukul 12 siang keesokan harinya, keluarga dikejutkan kabar duka dari dua mantan sekretaris desa, Helmi dan Jumana: Hasyimi dikabarkan jatuh ke jurang dan meninggal dunia. Keluarga sontak terpukul.
Mereka bergegas menuju lokasi yang disebutkan untuk mencari jasad korban. Awalnya, mereka pasrah. Mereka hanya ingin menemukan tubuh Hasyimi agar bisa dikebumikan dengan layak. Namun, begitu jasad diangkat dari dasar tebing Sungai Pineueng, keganjilan mulai muncul. Ada luka di leher dan tangan korban. Bukan luka karena terjatuh, tapi bekas pukulan benda tumpul. Warga akhirnya memutuskan membawa jenazah ke RSU dr. Fauziah Bireuen untuk diautopsi. Hasilnya memperkuat kecurigaan. Kematian Hasyimi bukan kecelakaan, melainkan tindak kekerasan berat. Sementara itu, polisi yang awalnya sempat percaya pada keterangan si Weuk, mulai menemukan kejanggalan.
“Awalnya dia kami periksa sebagai saksi. Ceritanya rapi, meyakinkan. Tapi ada beberapa bagian yang tidak nyambung,” tutur Kapolres Bireuen AKBP Tuschad Cipta Herdani, saat merilis hasil penyidikan pada 12 Juni lalu. Tim Satreskrim Polres Bireuen kemudian turun langsung ke lokasi kejadian. Mereka menelusuri jalur curam dan licin di kawasan hutan itu. Bahkan harus menggunakan sepeda motor trail untuk mencapai titik tebing. Nah, dari olah TKP, polisi menemukan sejumlah petunjuk baru, di antaranya uang tunai Rp1,3 juta yang disembunyikan di batang pohon sawit, serta pakaian milik korban dan tersangka yang masih berlumuran lumpur.
Tak butuh waktu lama, semua alibi si Weuk runtuh. Ia akhirnya mengaku mendorong Hasyimi ke jurang, setelah sebelumnya memukul korban hingga terjatuh. Motifnya sederhana tapi keji: ingin menguasai uang dan barang milik korban. Kisah mereka sebenarnya cukup panjang. Hasnawi alias Weuk bukan orang asing bagi Hasyimi. Keduanya sama-sama mantan kombatan GAM, yang pasca-damai berusaha memulai hidup baru di kampung halaman. Mereka sering ke kebun bersama, berburu, atau sekadar minum kopi di warung. Bagi warga, sulit membayangkan bahwa Weuk yang dikenal pendiam dan ramah, sanggup menghabisi temannya sendiri.
Namun, keserakahan dan kesempatan ternyata menutup mata nuraninya. Menurut Bidah (42), adik korban yang selama ini tinggal bersama Hasyimi, kakaknya membawa uang lumayan besar malam itu. “Saya sempat hubungi handphone abang, tapi tidak diangkat. Aneh, karena nada deringnya aktif sampai sore,” kenang Bidah lirih. Saat itulah ia mulai merasa ada yang tak beres. Tragedi di Sungai Pineueng bukan sekadar kisah pembunuhan. Ia adalah cermin betapa tipis batas antara sahabat dan musuh, antara kepercayaan dan pengkhianatan.
Di satu malam kelam di tengah hutan Bireuen, keserakahan menutup hati seorang lelaki hingga tega menyingkirkan teman sendiri, hanya demi uang yang tak seberapa. Kini, di balik jeruji besi, si Weuk harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sementara di Tanjong Beuridi, keluarga Hasyimi masih berziarah ke pusara sederhana di belakang rumah, mengenang lelaki yang tewas karena percaya pada sahabatnya sendiri.













Komentar