Rakyatnews.net | Riuh suara massa masih menggema di sekitar gedung DPR RI, ribuan orang berdesakan, bertahan dengan sisa tenaga setelah seharian menuntut keadilan.
Di tengah sorak dan bau gas air mata yang menusuk, tiba-tiba deru mesin kendaraan taktis Brimob memecah kegelapan, lampu sorot menyapu jalan, membuat bayangan manusia berlarian tak tentu arah.
Di tengah kekacauan itu, seorang pemuda bernama Affan mencoba bertahan, Ia berdiri, tubuhnya tegak meski napas tersengal.
Namun, takdir berkata lain, dalam hitungan detik yang terasa abadi, suara ban baja menghantam aspal, diiringi jeritan yang mengoyak malam.
Affan terjatuh, tubuhnya dilindas kendaraan taktis yang melaju tanpa ampun.
Sorak berubah jadi lengking ketakutan. Massa menjerit, sebagian mencoba mendekat, sebagian lagi terpaksa mundur dihantam gas air mata.
Di antara kepulan asap, Affan tergeletak tak bernyawa, menjadi simbol luka yang mendalam di tengah hiruk-pikuk demokrasi negeri ini.
Demonstrasi yang merebak di berbagai kota dalam sepekan terakhir menandai babak baru gejolak sosial Indonesia.
Semula dipicu oleh kebijakan kenaikan pajak properti dan tunjangan fantastis DPR, gelombang protes kini berubah wajah setelah tragedi memilukan menimpa seorang pengemudi ojek online.
Peristiwa ini seketika menjadi simbol ketidakadilan, rakyat kecil yang mencari nafkah harian justru meregang nyawa di tengah pusaran demonstrasi politik dan ekonomi.
Polisi Minta Maaf, Tapi Publik Belum Puas
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah meminta maaf secara terbuka dan memeluk keluarga korban.
Tujuh anggota Brimob diperiksa Divisi Propam, namun langkah ini belum cukup meredam amarah publik.
Banyak pihak khawatir insiden serupa akan berulang, sebab pola pengamanan aksi lebih menonjolkan kekerasan ketimbang pendekatan humanis.
Komisi III DPR menuntut penindakan tegas terhadap pelaku, organisasi mahasiswa menegaskan tragedi Affan adalah bukti kegagalan negara melindungi warganya.
“Kalau rakyat sampai dilindas di jalanan, itu artinya aparat sudah kehilangan empati,” tegas salah satu koordinator aksi.
Hari ini, Jumat (29/8), BEM SI Kerakyatan dan BEM UI turun ke jalan.
Titik aksi berpusat di Jakarta dengan long march menuju Polda Metro Jaya, sementara solidaritas juga berkumandang di Bandung dan Surabaya.
Di berbagai media sosial, nama Affan menjadi seruan perjuangan baru bahwa kematian seorang ojol bukan hanya tragedi personal, melainkan luka kolektif bangsa.
Antara Rakyat, Elit, dan Militer
Gelombang protes yang makin membesar juga terjadi di tengah kebijakan pemerintah yang memperluas peran militer di ranah sipil.
Publik pun makin curiga, apakah aparat kini lebih diposisikan sebagai alat penjaga kekuasaan ketimbang pelindung rakyat?
Pertanyaan ini menggema seiring munculnya kembali bayang-bayang “dwifungsi militer” yang dulu menjadi momok Orde Baru.
Tragedi Affan adalah alarm keras bahwa negara tidak boleh kehilangan rasa kemanusiaan.
Demonstrasi adalah hak warga negara, bukan ancaman yang harus dipatahkan dengan kekerasan. Sejarah mengajarkan, kekerasan hanya melahirkan dendam, sementara empati melahirkan kepercayaan.
Kini Indonesia diuji apakah kita belajar dari sejarah atau mengulanginya? Bila suara rakyat terus diabaikan, jika aparat terus menekan dengan cara represif, maka negeri ini benar-benar sedang melangkah mundur—kembali ke bayang-bayang masa lalu yang gelap.[NDR]









Komentar