Jakarta: Donor kornea semakin menjadi kebutuhan yang mendesak di Indonesia, Kondisi ini dipengaruhi oleh tingginya angka kebutaan akibat berbagai masalah mata, seperti katarak, refraksi, glaukoma, hingga gangguan retina. dr. Rina La Distia Nora, SpM (K), PhD, seorang ahli dalam bidang oftalmologi, menjelaskan bahwa katarak dan gangguan refraksi dapat diatasi dengan operasi atau kacamata, tetapi glaukoma dan gangguan retina masih menjadi tantangan besar.
Penyakit glaukoma, yang sering tidak terdeteksi pada tahap awal, berisiko menyebabkan kebutaan permanen. Penyakit ini tidak bisa disembuhkan, dan banyak orang yang mengalami kebutaan tanpa sadar hingga kondisinya sudah parah.
”Glaukoma adalah kebutaan yang diam-diam. Matanya bisa menjadi buram, terutama pada pinggirannya,” ujar dr. Rina saat dialog di Pro 1 RRI Jakarta, Selasa (23/9/25).
Selain glaukoma, diabetes menjadi penyebab utama gangguan retina yang berujung pada kebutaan. Gangguan ini semakin meningkat seiring dengan tren pola hidup yang kurang sehat, khususnya terkait makanan. Mengingat hal tersebut, penting untuk menjaga gaya hidup yang sehat untuk mencegah gangguan mata yang lebih serius.
Namun, untuk mereka yang membutuhkan transplantasi kornea, sayangnya, jumlah pendonor di Indonesia masih sangat terbatas. Padahal, donor kornea hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah meninggal dan Proses transplantasi ini memiliki waktu yang sangat terbatas setelah seseorang meninggal dunia, yaitu hanya enam jam untuk menjaga kualitas kornea agar tetap baik.
Prosedur pendonoran kornea sendiri tidak terlalu rumit. Masyarakat yang ingin menjadi pendonor bisa mendaftar di bank mata dan memberikan izin pada keluarga mereka.
“Yang penting, mata yang didonorkan harus sehat. Tidak ada infeksi atau penyakit seperti HIV atau Hepatitis,” tambah dr. Rina.
dr. Rina juga menambahkan bahwa donor kornea tidak akan mempengaruhi penampilan jenazah. “Mata hanya diambil dari bagian depan mata, seperti lensa kontak, sehingga jenazah tetap terlihat utuh,” jelasnya. Hal ini menjawab kekhawatiran banyak orang terkait dengan mitos yang beredar tentang donor organ.















Komentar