Gempa Aceh Barat Terasa Hingga ke Sumatera Utara

BANDA ACEH – Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 6.4 terjadi di daerah pesisir pantai barat Sumatera dekat dengan Kabupaten Nagan Raya. Gempa terjadi pada kedalaman dangkal 22 kilometer pada bagian interior lempeng oseanik Indo-Australia.  

Kemungkinan, gempa ini berpotensi juga dirasakan di beberapa wilayah di Sumatra Utara. Informasi yang diperoleh dari BPBD setempat, beberapa warga sempat keluar rumah karena panik terhadap goncangan gempa yang terjadi dengan durasi sekitar 3 – 5 detik. 

Menurut seismologist BMKG, Andrean Simanjuntak, gempa Meulaboh pada pagi hari ini terjadi pada kedalaman yang dangkal yaitu 22 km, sehingga bisa dikaitkan dengan aktivitas tektonik dari zona subduksi Sumatra. 

“Gempa Meulaboh pagi hari ini memiliki mekanisme patahan naik yang bisa dianggap terjadi pada bagian batas antara interior lempeng oseanik Indo-Australia dan kontinen Eurasia. Distribusi gempa bumi dibangkitkan karena adanya pergerakan subduksi miring Lempeng Oseanik Indo-Australia yang menunjam Lempeng Benua Eurasia dengan laju geser 5-6 cm/tahun,” kata Andrean. 

Pada sistem tektonik Sumatra, lanjutnya, gempa bumi di Meulaboh merupakan tipe gempa interface yang berasal dari aktivitas tektonik di zona subduksi. 

Selain itu, gempa Meulaboh juga berada pada zona megathrust Aceh-Andaman yang sebelumnya pernah membangkitkan gempa dahsyat pada 2004 dengan magnitudo 9.0 yang diikuti dengan tsunami. 

“Dalam beberapa kasus, aktivitas gempa interface memiliki potensi untuk mempengaruhi seismisitas pada patahan aktif yang tersegmentasi di sepanjang daratan Aceh yang bergerak pada arah dekstral atau menganan,” sebutnya. 

Andrean menjelaskan secara historis, beberapa kejadian gempa bumi interface sangat signifikan dan berpotensi merusak pernah terjadi antara lain gempa padang 2007, gempa Bengkulu 2007, dan di awal Januari terdapat gempa M 6 di daerah Banten, sebelumnya di Aceh pernah terjadi magnitudo 9.0 pada tahun 2004.  

“Umumnya, gempa-gempa yang terjadi di zona interface memiliki pelepasan energi seismik yang besar karena dibangkitkan oleh mekanisme naik dengan dimensi patahan yang besar dan diikuti spektrum guncangan yang luas. Pada tahun ini, terdapat dua gempa skala M 5 pada bulan Maret akibat aktivitas subduksi di pesisir barat Aceh dan dirasakan hingga III MMI di daerah Simeuleu serta terakhir pada Senin, 20 Juni terjadi gempa pada kedalaman 77 km dengan magnitudo 4.8 yang dirasakan sekitar III – IV MMI,” jelasnya. 

Ditambahkannya, belum ada informasi mengenai kerusakan yang timbul akibat gempa ini, tetapi getaran gempa cukup membuat perabotan hampir jatuh.  

Beberapa masyarakat merasakan getaran sekitar III – IV MMI atau goncangan cukup kuat dan dirasakan hampir seluruh pesisir pantai barat Aceh, seperti III MMI di Aceh Besar dan Banda Aceh, IV MMI di Meulaboh, II MMI di Pidie, IV MMI di Aceh Selatan, IV MMI di Nagan Raya, III MMI di Takengon dan Bener Meriah, III MMI di Simeulue, II MMI di Idi, Bireun, dan Aceh Tamiang. 

Sumber : AJNN.net

Komentar