Sabang: Sebagian orang tidak asing lagi dengan nama penyakit Diabetes. Penyakit ini sering disebut juga dengan silent killer (pembunuh diam-diam), dikarenakan gejalanya tidak terlihat jelas, tetapi dampaknya yang serius bahkan dapat mengancam jiwa.
Diabetes Militus (DM) adalah suatu penyakit sindrom metabolik bersifat kronis, dimana kadar gula yang tinggi didalam darah baik itu tubuh tidak dapat memproduksi gula darah sendiri atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin didalam tubuh dengan efektif. Padahal insulin ini berfungsi untuk membantu sel menyerap glukosa sebagai sumber energi.
Secara garis besar ada dua jenis yaitu, diabetes tipe 1 yang disebabkan autoimun atau kerusakan sel pankreas, yang terjadi pada waktu masih kecil (5-10 tahun). Yang kedua adalah diabetes tipe 2 yang disebabkan oleh pola hidup atau life style yang salah, dan ini terjadi dari tidak sensivitas dari insulin dalam tubuh, terjadi pada usia dewasa atau usia produktif.
Banyak asumsi yang beredar di masyarakat bahwa ada dua macam penyakit diabetes yaitu diabetes basah dan diabetes kering. Menurut dr. Rianda Akmal, Sp.Pd, selaku Dokter Spesialis Penyakit Dalam Klinik Bunda Thamrin Banda Aceh, tidak ada klasifikasi diabetes basah atau diabetes kering, “ Dari pengertian dan klasifikasi diabetes sendiri, saya juga belum menemukan literatur mengatakan ada diabetes basah dan kering, diabetes itu adalah pelonjakan gula darah, yang membedakannya adalah diabetes tipe 1 dan tipe 2 bahkan ada pelonjakan gula darah pada ibu hamil (gestasional), jadi pemahaman itu tidaklah benar adanya”, ujar dr.Rianda Sabtu (20/9/2025).
Menjalani hidup dengan penyakit diabetes bukan sesuatu yang mudah, dimana pasien harus menjalani pola hidup sehat, disiplin dalam rutinitas harian dimulai dari diet ketat, rutin kontrol medis, hingga khwatir akan menjadi komplikasi yang serius, kondisi ini dapat menimbulkan kecemasan, stres bahkan depresi. Ketika pasien diabetes, pasien akan mendapat tantangan yang berat seperti mengontrol gula darah, kelelahan fisik dan kebutuhan pola makan saat pengobatan diabetes itu sendiri, dan ini dilakukan dalam tahunan bukan mingguan ataupun bulanan, dan inilah yang membuat pasien stres kronik (berkepanjangan).
Ketika pasien dalam keadaan stres itu sendiri, disinilah akan terjadi kesehatan mental sperti cemas berlebihan akibat komplikasi diabetes yang ditimbulkan atau depresi merasa terbebani olehrutinitas dalam pengelolaan diabetes. “Ketika kesehatan mental memburuk disinilah titik awal DM tidak terkontrol sehingga pasien akan timbul penolakan baik dari pola makan, pola minum obat, mood sudah menurun, tidak mau lagi menggunakan suntikan insulin, tidak mau berolahraga, dan stres berkepanjangan akan timbul komplikasi baik ke mata, pembuluh darah lainnya, otak, jantung dan saraf, maka dengan komplikasi ini pasien akan lebih cemas lagi terhadap komplikasi yang ditimbulkan,” tambah dr.Rianda.
Oleh karena itu penanganan diabetes tidak hanya terfokus pada fisik saja, pendekatan yang mencakup dukungan psikologis sangat dibutuhkan, konseling, terapi dan dukungan keluarga menjadi faktor penting agar pasien diabetes tetap bersemangat menjalani hidup dan tidak merasa sendirian. Selain itu faktor lingkungan juga sangat penting dalam menjaga kesehatan mental pasien diabetes, dengan memberikan perhatian pada kesehatan mental pasien sehingga pasien diabetes dapat menjalankan hidup dengan lebih baik dan memiliki kwalitas hidup lebih optimal.
“Diabetes Militus (DM) bukanlah akhir dari dunia, dengan pengelolaan fisik dan mental yang baik, kita bisa hidup dengan produktif dan bahagia, cegahlah mulai dari sekarang, bagi keluarga, sahabat dan masyarakat, dukunglah penderita DM, jangan dikucilkan, DM ini bukan penyakit yang harus di hindari dan tidak menular, dengan rangkulan kita, penderita DM termotivasi untuk hidup sehat,” tutupnya.













Komentar