Cerita Sulastri Pelaku UMKM Gaet Peluang Cuan dari Usaha Menjahit Bordiran

Sudah hampir dua tahun lamanya Sulastri membuka usaha menjahit bordiran, usaha rumah ini berada di Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Selatan. Usaha yang diberikan nama Pucok Pala ini menerima semua usaha kerajinan tangan baik dari tas, baju dan bordiran lainnnya.

Bordiran tas atau pun baju akan diproduksi sesuai dengan pesanan dari konsumen. Biasanya kata Sulastri, pihak Dekranasda yang sering memesan produk buatannya.

“Biasanya mereka minta pesan 100 buah,” kata Sulastri selaku owner Pucok Pala.

Diakuinya, saat  kondisi pandemi Covid-19 membuat pelaku usaha begitu sulit  untuk mempromosikan produk, mengingat terbatasnya interaksi jual beli secara fisik di tengah pandemi.

Saat ini, kata Sulastri, untuk 100 buah tas akan dikerjakan selama kurun waktu sebulan lamanya. Sebab Sulastri hanya bekerja sendiri saja. Biasanya, orderan paling banyak mencapai 200 pcs baik baju maupun tas yang diproduksi dari tangannya.

Untuk harga baju dan tas tergantung motif dan model yang diinginkan oleh konsumen. Untuk harga baju bordiran mencapai Rp 500 ribu perbajunya.

Untuk bahan dasar bordiran menggunakan benang Sinarmas yang dibeli dan dipasok dari produk lokal. Sementara untuk bahan tas bordiran, biasanya Sulastri akan memesan dan memasoknya dari Banda Aceh.

Karena hanya usaha rumahan, Sulastri juga terkendala dibidang produksi karena hanya bekerja sendirian, sehingga pemesanan hanya dapat dilakukan langsung mendatangi rumah produksi atau dapat mengunjungi Facebook Pucok Pala.

“Jadi saat ini saya masih berjualan di seputaran Aceh Selatan aja,” katanya

Komentar