Banda Aceh : Fenomena cuaca panas ekstrem dan angin kencang yang terjadi dalam beberapa hari terakhir menimbulkan ancaman serius kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Aceh Barat. BMKG dan BPBD mengingatkan bahwa kondisi ini merupakan kombinasi berbahaya yang harus diwaspadai oleh masyarakat dan pemerintah daerah.
Nasrol Adil, S.T., Koordinator BMKG Provinsi Aceh, menjelaskan bahwa bulan Juli memang menjadi periode puncak kemarau untuk kawasan barat Aceh. Penurunan curah hujan dan meningkatnya suhu permukaan menyebabkan kelembaban tanah menurun drastis. “Aceh Barat berada di wilayah rawan karena dominasi lahan gambut yang mudah terbakar. Jika suhu terus meningkat hingga 37 derajat Celcius, ditambah tekanan udara rendah, kita berpotensi menghadapi angin kencang atau bahkan pembentukan awan konvektif dan bibit siklon,” jelas Nasrol dalam Dialog Banda Aceh Pagi, Senin (7/7/2025).
Sementara itu, Jamal Mirdha, M.Si., M.Sc., Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik dan Damkar BPBD Aceh Barat, menyampaikan bahwa sejak Rabu (5/7), pihaknya mencatat peningkatan signifikan titik api di beberapa kawasan, termasuk Kecamatan Johan Pahlawan, Meureubo, dan Arongan. “Kondisi terkini menunjukkan satu titik besar masih aktif terbakar di Suak Raya. Kendala utama kami adalah akses sulit dan tidak tersedianya sumber air di lokasi,” ungkap Jamal.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa sebagian besar penyebab karhutla berasal dari aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan dengan cara membakar dan pembakaran sisa hasil panen. “Kami sudah sering sosialisasi, namun masih ada masyarakat yang bandel. Lahan gambut bisa terbakar di satu titik, tapi merambat jauh ke bawah permukaan,” katanya.
Disisi lain, Dr. Yopi Ilhamsyah, Dosen Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala sekaligus peneliti atmosfer dari Pusat Riset STEMM USK, menyoroti rendahnya kesadaran publik terhadap bahaya pembakaran terbuka. “Masyarakat masih membakar jerami atau sampah di lahan kering. Padahal asapnya bisa menyebabkan hujan asam, menurunkan kualitas udara, dan mengganggu visibilitas, bahkan penerbangan,” tegas Yopi.
Ia juga mendorong perguruan tinggi dan media untuk terus mengedukasi publik, serta pemerintah agar membangun literasi iklim berbasis komunitas. “Perubahan iklim ini nyata. Kita harus membangun kesadaran kolektif. Jangan hanya bergerak saat kebakaran terjadi, tapi cegah sejak awal,” tambahnya.














Komentar