Banda Aceh – Produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) asal Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh, saat ini terus menunjukkan tren positif. Ada banyak produk yang dihasilkan kini tidak lagi sekedar menyasar pasar lokal, tapi mampu tembus pasar nasional hingga mancanegara. Salah satu produk UMKM dari Banda Aceh yang kini sukses besar adalah Bitata Food.
Usaha kuliner asal Banda Aceh ini memproduksi berbagai macam cemilan hingga bumbu masak, menghadirkan berbagai produk makanan dengan cita rasa khas dan kualitas yang terjaga. Kehadiran Bitata Food menjadi bukti bahwa pelaku UMKM lokal mampu berkembang dan bersaing melalui kreativitas serta komitmen terhadap kepuasan pelanggan.
Bitata Food tidak hanya hadir sebagai usaha kuliner biasa, tetapi juga membawa semangat untuk memperkenalkan produk lokal yang berkualitas kepada masyarakat luas. Dengan mengutamakan rasa, kebersihan, dan kemasan yang modern, usaha ini berhasil membangun kepercayaan konsumen, tidak hanya di Aceh tapi juga seluruh Indonesia bahkan mancanegara.
Bitata Food adalah sebuah usaha kecil yang memproduksi makanan cemilan berupa keripik kentang, stik keju, crispy gartic, bawang goreng kemasan dan bumbu nasi minyak. Rumah usaha ini beralamat di Jalan Tengku Dilhong 1, Gampong Peunyerat Kecamatan Bandar Raya, Kota Banda Aceh.
Untuk kalangan remaja dan mahasiswa, camilan Bitata Food sudah sangat dikenal karena memiliki cita rasa. Hampir di setiap kantin sekolah dan kampus di Aceh, camilan produk Bitata Food ada tersedia. Pemasaran produk Bitata Food, sudah meluas hingga pasar online, seperti Shopee dan Tokopedia, berbagai swalayan bahkan hingga sia. Indomaret, Alfamart, Suzuya Mall, sampai ke Hypermart Dubai.
Pelopor Bawang Goreng Kemasan Botol
Nama besar Bitata Food tidak lahir dari rahim warisan orang tua, tapi datang dari perjuangan jatuh bangun melalui tangan kreatif Anshar Zulhelmi yang merupakan owner Bitata Food, bersama istrinya. Beberapa waktu lalu, Anshar berkisah kepada media bahwa pada suatu ketika ia berjalan dari toko ke toko dengan harapan sederhana: menjual lima bungkus bumbu nasi minyak.
Namun hingga waktu ‘Ashar tiba, tak satupun yang laku. Dengan hati sedih, ia melangkah ke Masjid Oman. yang berada di Lampriet, Kota Banda Aceh. “Ya Allah, lima bungkus ini tidak laku. Tolong bantu aku,” lirihnya dalam doa. Kini, nama Anshar dikenal sebagai pendiri Bitata Food, UMKM kuliner asal Kota Banda Aceh yang menembus omzet ratusan juta rupiah per bulan.
Namun perjalanannya tak semudah membuka tutup botol produk yang kini tersebar hingga Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Alumni pondok pesantren Gontor ini awalnya mencoba berjualan kue dari ketela, namun kurang laku hingga beralih pada bumbu nasi minyak—resep warisan neneknya. Produk itu ia kemas dalam botol dan ditawarkan dari rumah ke rumah, namun juga tidak mendapat pasar yang memuaskan.
Titik balik datang saat ia menghadiri seminar bisnis di Hotel Mekkah, Banda Aceh. Di sana ia bertemu Ratu Nur Anissa, yang kelak menjadi istrinya dan partner bisnisnya. Ratu, dengan latar belakang bisnis kuliner, membantu Anshar menata ulang strategi.
Setelah menikah pada 2018, keduanya mendirikan Bitata Food. Awalnya fokus pada bumbu nasi minyak, pelanggan kemudian meminta produk lain—bawang goreng. Mereka pun menjadi pelopor bawang goreng kemasan botol bersertifikat halal di Aceh.
Masuknya pandemi COVID-19 justru membawa berkah. Penjualan online melalui Instagram dan WhatsApp melesat dari puluhan menjadi ribuan botol per bulan. Bitata Food terus berinovasi. Pada 2022 mereka meluncurkan nasi minyak siap makan dan menggandeng restoran untuk memperluas distribusi tanpa membuka cabang.
Namun ekspansi ke Jakarta, Bandung, dan Jogja sempat tersendat. Distributor bermasalah, barang menumpuk, dan arus kas terganggu. Dari pengalaman itu, Anshar dan Ratu kembali fokus ke penjualan harian dan produk yang lebih stabil. Mereka juga memberdayakan warga sekitar—terutama ibu rumah tangga—untuk mengupas bawang, menciptakan dampak sosial di komunitas lokal.
Kini Bitata Food memiliki puluhan karyawan dan omzet bulanan hingga ratusan juta. Produk mereka telah menyentuh ribuan pelanggan di seluruh Indonesia. Bitata sendiri adalah akronim dari “Biar Tambah Takwa.” Sebuah nama sederhana, yang merekam cita-cita besar seorang anak Aceh untuk berdiri di antara bisnis dan keberkahan.
Anshar mengharapkan dukungan dari semua pihak masyarakat Aceh khususnya pemerintah agar terus membantu pengembangan pasar, kemudian dukungan semua pihak tidak hanya untuk Bitata Food saja, tapi seluruh UMKM juga butuh perhatian untuk menggunakan produk lokal Aceh, sehingga perputarannya lebih cepat dari ekspansi nasional.
UMKM yang Sukses Naik Kelas
Biar Tambah Taqwa (Bitata) Food terus mengepakkan sayapnya. Kini produk-produk home industri ini telah tembus pasar global. Beberapa tahun lalu Bitata telah mulai mengekspor beberapa dus produknya untuk dipasarkan di hypermarket di Dubai.
Secara lokal, produk yang memanjakan lidah pecinta kuliner dari Bitata Food kini bisa dengan mudah diperoleh di swalayan-swalayan di Aceh. Bahkan telah lama merambah ke pasar nasional. Selain lewat gerai di beberapa wilayah di nusantara, produk Bitata Food juga dijual di marketplace-marketplace.
Bumbu Nasi Minyak adalah satu dari beberapa produk unggulan Bitata Food. Saat ini, UMKM yang berbasis di Kota Banda Aceh, ini telah memproduksi lebih dari lima produk. Selain bumbu masak, ada juga cemilan atau makanan ringan. Produk dikemas dalam bungkusan plastik yang apik dengan model standing pouch dan juga botol atau plastik PET.
Setiap bulan, usaha milik pasangan suami istri, Anshar Zulhelmi dan Ratu Nur Annisa, bisa terjual hingga ribuan item, dengan perkiraan pendapatan mencapai ratusan juta rupiah. Tapi untuk mencapai sukses seperti sekarang ini, mereka tidak memperoleh dalam sekejap. Banyak sekali tantangan yang dihadapi, baik dari sisi modal, waktu, tenaga, hingga pikiran.
Raih Penghargaan AKI
Bitata Food adalah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) asal Banda Aceh yang pernah penghargaan Apresiasi Kreasi Indonesia (AKI) pada tahun 2022. Bitata Food terpilih sebagai finalis terbaik oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenparekraf RI).
AKI adalah program strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk mengembangkan ekonomi kreatif melalui peningkatan kapasitas dan pameran. Program ini menjadi wadah bagi pelaku usaha kreatif tanah air untuk memamerkan karya, memperluas jaringan, dan bersaing secara global.
Program ini bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, mempromosikan produk lokal, serta menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat. AKI mewadahi para pelaku ekonomi kreatif dari tujuh sub sektor utama, yaitu: Kuliner, Kriya, Fesyen, Aplikasi/Gim, Film, Musik, dan Kategori tambahan lainnya.
Keberhasilan Bitata Food meraih penghargaan Apresiasi Kreasi Indonesia (AKI) menunjukkan bahwa UMKM asal Kota Banda Aceh ini memiliki akar yang kuat, tidak hanya dalam bentuk kegigihan tapi juga kebersihan, kelayakan, hingga inovasi pengemasan produk yang elegan dan modern. (Adv)















Komentar