ACEH TIMUR – Anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman atau yang akrab disapa Haji Uma, angkat bicara soal keluhan warga terkait bau gas menyengat yang muncul saat aktivitas shutdown PT Medco E&P Malaka berlangsung.
Haji Uma menegaskan pihak perusahaan harus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap manajemen keselamatan dan standar operasional yang diterapkan selama ini.
“Kita akan menyurati perusahaan agar persoalan ini ditangani secara serius dan tuntas, bukan setengah hati,” ujar Haji Uma, Jumat (29/8/2025).
Politisi asal Aceh itu mengaku sudah mempelajari surat resmi yang dilayangkan Keuchik Panton Rayeuk, Kecamatan Banda Alam, Aceh Timur.
Dalam surat tersebut, masyarakat menyuarakan keresahan akibat bau gas yang diduga kuat bersumber dari aktivitas PT Medco.
Menurut Haji Uma, masalah ini bukan kali pertama terjadi. Bahkan, sudah sejak lama menjadi keluhan warga yang tinggal di sekitar area operasi perusahaan migas tersebut.
“Kami akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait agar persoalan ini benar-benar selesai,” tegasnya.
Sebelumnya, warga Desa Panton Rayeuk T, Kecamatan Banda Alam, dibuat panik oleh bau gas misterius yang tercium usai kegiatan shutdown Medco.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Satuan Brimob Polda Aceh melalui Detasemen Gegana menurunkan tim Kimia, Biologi, Radiologi, dan Nuklir (KBRN) untuk menelusuri sumber bau.
“Tiga titik lokasi yang dicek bersama warga dinyatakan aman. Tidak ada indikasi gas beracun atau bahan kimia berbahaya,” jelas Kapolres Aceh Timur, AKBP Irwan Kurniadi, Kamis (28/8/2025).
Kapolres menyebut pengecekan pertama dilakukan Selasa sore (26/8/2025). Meski hasil awal menunjukkan kondisi aman, pemeriksaan lanjutan dilakukan tengah malam dan pagi hari untuk memastikan tidak ada kontaminasi bahan kimia berbahaya di Desa Panton Rayeuk T.
Tim menggunakan alat deteksi ChemPro100i, perangkat portabel yang mampu mengidentifikasi senyawa kimia beracun. Petugas juga dilengkapi APD level tinggi dan peralatan khusus dari Subden KBRN Gegana.
Sebagai langkah antisipasi, Polres Aceh Timur bersama BPBD dan Dinas Lingkungan Hidup mendirikan posko siaga di Puskesmas Pembantu Desa Panton Rayeuk T.
“Posko ini untuk memantau situasi sekaligus menjadi titik laporan jika ada kondisi darurat,” ujar AKBP Irwan.
Meski hasil pengecekan awal menyatakan aman, warga berharap pihak Medco tidak menganggap sepele keluhan yang muncul.
Mereka menuntut perusahaan bertanggung jawab dan memastikan tidak ada lagi insiden serupa yang mengancam keselamatan lingkungan maupun masyarakat.









Komentar