Banda Aceh – Bagi masyarakat Aceh yang ingin berlangganan produk sabun cair lokal, maka ‘Zuper’ bisa menjadi solusinya. Produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) asal Ulee Kareng Kota Banda Aceh ini, selain dikenal ramah lingkungan juga telah mendapat pengakuan dari Pemerintah Aceh.
Saat ini merk sabun cair Zuper telah memiliki ratusan pelanggan tetap, khususnya dari kalangan pelaku usaha bidang industri kuliner di Kota Banda Aceh dan sekitarnya. Memiliki ratusan pelanggan, menunjukkan bahwa sabun Zuper aman dipakai dan ramah lingkungan.
Zuper adalah produk sabun cair asal Kota Banda Aceh yang kini mulai dikenal luas sebagai produk UMKM berkualitas dengan konsep ramah lingkungan. Zuper membuktikan bahwa produk lokal yang berskala rumahan tetap mampu bersaing di tengah gempuran berbagai produk modern yang berbasis industri besar di Indonesia.
Sejak didirikan pada tahun 2018, Zuper Sabun terus berkembang dan kini menjadi salah satu produsen sabun lokal yang berhasil menembus pasar industri kuliner di Banda Aceh dan sekitarnya. Yudhi Ridhayat (39), selaku owner dari Zuper Sabun, mengungkapkan bahwa sabun yang diproduksinya awalnya hanya melayani sekitar 10-20 relasi (pelanggan), namun kini telah mencapai ratusan pelanggan tetap dari kalangan industri kuliner.
Yudhi menambahkan, ide awal dari usaha yang dijalankannya tersebut berawal dari kesadaran dan keyakinan bahwa sabun cair merupakan kebutuhan primer yang digunakan oleh setiap rumah tangga, hingga sektor bisnis seperti hotel, restoran, dan kafe (Horeka). Tidak ada rumah yang tidak menggunakan sabun, sehingga pangsanya besar karena menjadi kebutuhan sehari-hari.
Meski demikian, Yudhi menyadari bahwa hanya menjual sabun tidak cukup untuk menciptakan peluang bisnis yang berkelanjutan. Ia pun melihat satu masalah utama di industri ini, yaitu limbah plastik dari kemasan sabun yang terus bertambah. Dari sinilah Zuper Sabun hadir dengan konsep berbeda, yaitu sistem isi ulang menggunakan jerigen.
Yudhi menyebutkan bahwa target utama pasar untuk produk sabun yang digarapnya adalah industri kuliner, dan kini target tersebut berhasil dicapai. “Sejak awal, Zuper Sabun menargetkan industri kuliner yang mencakup hotel, restoran, dan kafe (Horeka),” kata Yudhi kepada media baru-baru ini. Sabtu (22/5/2026).
Strategi ini terbukti efektif karena Banda Aceh sendiri memiliki sekitar 1.500 titik industri kuliner. Dengan memanfaatkan peluang ini, Zuper Sabun menetapkan target untuk meraih setidaknya 20% dari pasar yang ada, atau sekitar 300 titik industri kuliner. Saat ini, mereka telah mencapai ratusan relasi yang menjalin kerja sama.
Meskipun era digital marketing sedang berkembang pesat, Zuper Sabun masih mengandalkan strategi pemasaran langsung (direct selling). Mereka memiliki dua tim sales yang berfokus menawarkan produk secara langsung ke rumah makan, kafe, dan usaha kuliner lainnya. Metode ini memungkinkan mereka untuk menjalin hubungan yang lebih erat dengan pelanggan serta memastikan kualitas layanan yang diberikan tetap optimal.
“Kita belum menyentuh digital marketing ataupun online. Jadi kita memiliki dua team sales yang memang dia menawarkan secara langsung direct selling atau door to door ke rumah-rumah makan, ke target pasarnya. Sehingga apabila terjadi closing deal, disitu kita baru mencoba memaintenance, follow up relasi tersebut,” ungkapnya.
Untuk mengurangi sampah plastik, Zuper Sabun menggunakan jerigen isi ulang yang dapat dikembalikan dan dicuci kembali sebelum digunakan ulang. “Begitu kita pasok ke pelanggan, apabila jerigennya kosong, yang kosong kita ambil, kita cuci lagi,” jelas Yudhi. Dengan strategi ini, Zuper Sabun tidak hanya memberikan solusi bagi pelanggan, tetapi juga berkontribusi terhadap lingkungan dengan mengurangi sampah plastik.
Zuper Sabun adalah merek produk sabun cair lokal yang diproduksi oleh UMKM di Banda Aceh. Merek ini berfokus pada produk-produk home care yang ramah lingkungan dengan konsep penjualan isi ulang. Rangkaian produk sabun dari Zuper meliputi: Sabun cuci piring, Sabun cuci tangan, Pembersih lantai, dan Pembersih kaca.
Zuper bukan sekadar produk sabun biasa. Di balik hadirnya sabun cair ini terdapat semangat inovasi, ketekunan, serta komitmen untuk menghadirkan produk lokal yang mampu bersaing di tengah gempuran berbagai produk modern. Berawal dari usaha kecil, Zuper kini berkembang menjadi salah satu produk UMKM Banda Aceh yang mendapat kepercayaan masyarakat.
Masuk Program Binaan Pemerintah Aceh
Yudhi Ridhayat (39), owner dari Zuper Sabun kepada media mengungkapkan bahwa Sabun Cair Zuper awalnya hanya melakukan rebranding terhadap produk sabun dari pihak lain. Namun, seiring dengan meningkatnya pemahaman tentang kebutuhan pasar, mereka mulai memproduksi produk sendiri untuk memastikan kualitas sesuai dengan harapan pelanggan.
Saat ini, bahan baku Sabun Cair Zuper diambil langsung dari supplier di Medan. Sekitar 50-60% bahan baku masih diimpor dari Malaysia, sementara sisanya berasal dari dalam negeri. Semua bahan yang digunakan sudah berbasis food grade atau telah memenuhi standar keamanan sehingga aman untuk penggunaan sehari-hari.
Dalam proses pengembangan produk, banyak trial and error yang dilakukan. “Bahkan, pernah ada sekitar 200 liter sabun yang harus dibuang karena tidak memenuhi standar kualitas” ungkap Yudhi. Lewat inovasi dan semangat pantang menyerah, akhirnya dia menemukan formula yang tepat dan mendapatkan kepercayaan luas dari masyarakat.
Meski saat ini telah dikenal luas, Sabun Cair Zuper masih harus bekerja keras menghadapi tantangan dalam mengedukasi pelanggan tentang limbah plastik dan mendukung produk lokal, “Mayoritas ibu rumah tangga sudah terbiasa menggunakan merek nasional tertentu, sehingga membangun kepercayaan terhadap merek lokal seperti Zuper membutuhkan waktu” ujarnya.
Untuk mengatasi hal ini, Sabun Cair Zuper fokus pada strategi harga yang lebih kompetitif dan pendekatan ramah lingkungan dengan konsep isi ulang. “Tim pemasaran aktif melakukan sosialisasi door-to-door untuk memberikan edukasi tentang manfaat menggunakan sabun isi ulang,” ungkap Yudhi, seraya menambahkan bahwa Sabun Cair Zuper akan terus memperkuat pasar lokal sebelum melakukan ekspansi ke daerah lain.
Lewat usaha dan kerja keras, ada tahun 2022, Zuper Sabun berhasil masuk dalam program binaan Pemerintah Aceh melalui Dinas Penanaman Modal dan PT Pembangunan Aceh (Perseroda). Kesempatan ini membawa mereka ke tahap evaluasi bisnis, di mana mereka harus mengajukan proposal investasi. Dari tujuh peserta yang mengikuti seleksi, hanya dua bisnis yang dinilai layak untuk mendapatkan investasi, salah satunya adalah Zuper Sabun.
Setelah melalui proses evaluasi bisnis yang ketat, Zuper Sabun memperoleh investasi sebesar Rp125.000.000 dari PT PEMA. Dana investasi ini dialokasikan untuk berbagai keperluan, antara lain 40% untuk modernisasi manufaktur, 40% untuk pemasaran, dan 20% sebagai dana cadangan perusahaan.
“Dukungan dari PT PEMA memberikan dampak signifikan terhadap produksi kami. Sebelumnya, kami hanya bisa memproduksi sekitar 640 liter sabun per minggu. Setelah mendapatkan investasi, produksi kami meningkat hampir dua kali lipat menjadi 1.200 liter per minggu,” ujar Yudhi Ridhayat.
Selain meningkatkan produksi, Zuper Sabun juga terus berinovasi dengan menghadirkan produk pembersih rumah tangga seperti sabun cuci piring, pembersih lantai, pembersih kaca, dan sabun cuci tangan. Produk sabun cuci piring mereka hadir dalam tiga kualitas, yaitu grade A, B, dan C, yang masing-masing memiliki perbedaan pada tingkat busa, daya pembersih, dan aroma.
Saat ini, mereka juga sudah memproduksi sabun cuci sepatu dan parfum pengharum sepatu yang tersedia beberapa varian aroma seperti coffee, bubble gum, ocean dan vanilla. (Adv)









Komentar